Api dulu dan api sekarang

Dulu, tidak terlalu dulu, mereka cuma sekedar mengelilingi api unggun di bawah bulan, di kaki gunung, di udara yang dingin sambil bersuka ria, menyanyi-nyanyi riang, bercengkrama tanpa beban. Kini mereka mengelilingi api yang sama, tapi dengan bahan bakar yang berbeda, sangat berbeda, dengan nyayian kencang menggema. Memekakkan telinga. Untuk siapa mereka menyanyi? Untuk kita? Entahlah, yang pasti panasnya api unggun mereka merubah suara wakil-wakil kita di Senayan. “Anget-anget” eh “angket-angket” kata mereka, dan palupun diketuk.

Baca Lanjutannya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.