Dulu, tidak terlalu dulu, mereka cuma sekedar mengelilingi api unggun di bawah bulan, di kaki gunung, di udara yang dingin sambil bersuka ria, menyanyi-nyanyi riang, bercengkrama tanpa beban. Kini mereka mengelilingi api yang sama, tapi dengan bahan bakar yang berbeda, sangat berbeda, dengan nyayian kencang menggema. Memekakkan telinga. Untuk siapa mereka menyanyi? Untuk kita? Entahlah, yang pasti panasnya api unggun mereka merubah suara wakil-wakil kita di Senayan. “Anget-anget” eh “angket-angket” kata mereka, dan palupun diketuk.
13 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal












huhuhuhuhu nendang banget gambar nya
Memprihatinkan jika segala keinginan diikuti dengan kekerasan….padahal masih ada jalan diskusi…..
iya…sekali lagi….sy merindukan stabilitas…can we just be civilized ? (sorry yah jadi curhat)
mendingan demo damai ga pake bakar membakar
*untung plat mobil saya hitam hehehe*
saya hanya bisa bersedih…
entah apa yang didapat dari membakar
waduh… saya ndak suka main api…
hahahahaha..mirisnya hati ini…
hehe
iya tuh,
mahasiswa sekarang.. u_u
mau jadi apa ya mahasiswa sekarang ini (he3, ga nyadar dirinya sendiri mahasiswa)
Kenapa ngak ada yang milih demo yang bermanfaat ya??
————————————————————–
Corgir:
Aku yakin masih ada yg milih demo yg bermanfaat dan tidak merusak… Yg dicoret kali ini mudah-mudahan hanya bagian kecil saja. Semoga…
begitulah… dulu pasar kebakaran semua bingung kok bisa terbakar ya?
sekarang pasar kebakaran semua bingung siapa yang mbakar ya???
Makin maju makin ngak baik ya ?
Silahkan kunjungi web kami http://repository.unand.ac.id