Jakarta dikepung banjir hari kemarin. Menurut laporan yang beredar di media, terdapat beberapa versi terkait titik banjir. Ada yang mengatakan banjir dan genangan terjadi di 80 titik. Ada versi lain yang mengatakan di 54 titik. Tetapi banjir kemarin, yang mengakibatkan tiga korban meninggal, memang benar-benar menciptakan keruwetan di Jakarta.

Keruwetan yang terjadi dialami banyak orang yang berkepentingan dengan Jakarta. Para pekerja mengalami kesulitan untuk berangkat ke kantor karena sarana transportasi yang tidak bisa berfungsi seperti KRL, Transjakarta dan juga kendaraan pribadi bahkan motor. Akibatnya, beberapa karyawan terlambat sampai ke kantor. Toko-toko buka menjelang siang hari. Beberapa sekolah harus meliburkan proses belajar mengajar. Beberapa daerah yang selama 10 tahun tidak mengalami banjir, kemarin itu mendapat giliran terkena genangan.

Hujan yang turun rutin selama seminggu terakhir memang menimbulkan sensasi tersendiri bagi penduduk Jakarta, terlebih-lebih Pemerintah DKI Jakarta. Kondisi Pemerintah Jakarta yang tidak terkomandoi secara efektif berimplikasi terhadap banyaknya genangan dan banjir. Upaya-upaya persiapan tidak dilakukan maksimal, karena sang komandannya sedang cuti. Sementara pejabat penggantinya ditenggarai tidak memiliki pengalaman memberikan pelayanan publik di Jakarta dengan ancaman banjir yang tinggi.

Sedikit menginformasikan, ancaman banjir Jakarta berasal dari tiga area yakni hulu yang cenderung lebih ‘ganas’, hujan lokal dan juga rob dari pantai utara Jakarta. Jika kombinasi ketiganya menyerang Jakarta, dipastikan 70% Jakarta akan banjir. Tetapi di kejadian kemarin, rob tidak ikut ‘berpartisipasi’. Agak amanlah.

Kalau diperhatikan ada beberapa yang berbeda dan tidak biasa dari banjir kemarin dibandingkan dengan banjir-banjir lalu. Setidaknya dengan membandingkan dengan banjir-banjir tahun 2002, 2007, 2012 dan 2013. Padahal banjir kali ini diakibatkan cuaca dan hujan ekstrim.

Di samping itu, pada tahun lalu, Indonesia mengalami musim kemarau basah. Kemarau basah yakni musim kemarau dengan curah hujan yang tinggi. Kondisi ini tentunya mengakibatkan kantong-kantong air bawah tanah terisi dan kandungan air dalam tanah juga mengalami kejenuhan. Dengan demikian, kondisi hujan ekstrim yang terjadinya pastinya akan mengakibatkan banjir yang harusnya lebih parah. Tetapi, ketika dicermati terdapat banyak keanehan pada banjir Jakarta kali ini.

Dari pengamatan dan laporan di media-media, ternyata banjir kali ini jauh lebih cepat surut. Dalam hitungan jam, air telah kembali kering. Ketinggian air yang semulanya hingga 50 cm, hanya dalam hitungan jam sudah surut dan tidak menimbulkan genangan yang berarti. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional yang diwakili oleh Kepala Pusat Data dan Informasi, banjir yang terjadi memiliki ketinggian mulai 25 cm – 150 cm. Tetapi, dalam tempo setengah hari, airnya sudah kanda.

Sementara itu, wilayah DKI Jakarta merata dalam mengalami banjir ini. Kawasan yang paling terdampak adalah Jakarta Utara dan Selatan, sementara Jakarta Timur dan Barat relatif lebih ringan. Tetapi, titik banjirnya mengalami penyusutan yang signifikan. Jika banjir tahun 2015 ada 486 titik banjir, di awal tahun 2016 menjadi 185 titik, di Juli 2016 ada 80 titik dan di Februari 2017 terdapat 54 titik banjir. Hal ini menunjukkan hasilan yang luar biasa atas upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah DKI.

Pemandangan lain yang diperhatikan masyarakat dunia maya adalah genangan-genangan air yang ada di beberapa wilayah kelihatan lebih bersih. Bahkan netizen ada yang menyatakan lokasi banjir seperti di luar negeri. Foto banjir di perempatan Arion di Jalam Pemuda di Jakarta Timur menunjukkan hal tersebut. Airnya tampak bersih dan tidak keruh, cenderung bening.

Lebih mengherankan lagi, sampah tidak tampak mengambang di lokasi genangan. Sampah-sampah pada banjir-banjir sebelumnya selalu ikut meramaikan genangan air yang ada. Selokan-selokan pun airnya kelihatan lebih bening sehingga dasarnya kelihatan. Memang masih ada sampah di dasar selokan, tapi jauh lebih bersih dari masa-masa sebelumnya.

Hal lain terkait kekhawatiran warga yang terkena dampak banjir. Ternyata kekhawatiran itu sedikit berkurang karena hadirnya pasukan Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) di kawasan-kawasan yang terkena banjir. Seperti dirilis Kompas, Selasa (22 Februari 2017) di Kawasan Kelurahan Karet Tengsin, pasukan PPSU ini sudah siaga sejak jam 03.00.

Lurah yang bertanggung-jawab atas kondisi wilayahnya memerintahkan 42 pasukan PPSU untuk mengawasi kondisi dan selanjutnya mengevakuasi penduduk yang terdampak ke lokasi aman. Setelah itu, pasukan ini membersihkan selokan-selokan dan aliran air dari sampah yang terbawa aliran air. Sampah berbentuk kayu, stereoform dan plastik. Sebagian masyarakat memang belum sadar akan makna kebersihan. Tetapi, dengan hadirnya pasukan PPSU ini, masyarakat merasa nyaman dan menyaksikan kehadiran pemerintah dan layanan publiknya.

Tidak mau kalah dengan pasukan PPSU, Gubernur Basuki dan Wakil Gubernur Djarot bergerilya ke lokasi-lokasi banjir terparah. Pasukan dan segala sumber daya dikerahkan termasuk mengerahkan mobile pump dan mobil pemadam untuk menyedot air serta membuangnya ke aliran sungai. Secara tegas dan langsung, Gubernur Basuki memberikan penjelasan kejadian banjir ketika ditanya awak media. Beliau mengatakan secara jujur bahwa penataan banjir masih 40%. Terkendala lahan. Masih ada lahan dalam sengketa yang berkepanjangan dan menghambat proses. Kepada penduduk yang terkena banjir, sang gubernur secara lugas mengatakan bahwa mereka harus direlokasi.

Dalam proses kunjungan ke lokasi banjir, Basuki berusaha tidak mempersulit petugas dengan ikut menumpang perahu karet untuk evakuasi masyarakat terdampak. “Lebih baik masyarakat saja yang menggunakan perahu”’ begitu ujarnya. Bisa jadi Ahok belajar dari cara Presiden Jokowi yang selalu mengurangi kerepotan pejabat dan masyarakat terdampak ketika mengunjungi daerah bencana seperti di Sinabung.

Baik Jokowi dan Basuki tidak ingin merepotkan para petugas dan pejabat yang cenderung lebih mengerahkan sumber daya untuk melayani pimpinannya daripada masyarakat yang memerlukan bantuan. Kejadian yang tidak elok terjadi ketika Presiden SBY mengunjungi Sinabung di tahun 2014. Rombongan presiden yang menginap semalam harus merepotkan para pihak untuk menyediakan akomodasi berupa tenda modern yang harganya mencapai 15 milyar rupiah dan perlengkapannya.  Tenaga dan waktu petugas banyak tersita untuk mengurusi rombongan pejabat tinggi negara. Kejadian ini mendapat sorotan negatif dari berbagai pihak. Basuki tidak ingin kejadian seperti ini.

Lebih lanjut, ternyata penjelasan Basuki di atas diamini oleh masyarakat yang terdampak. Kini mereka ingin direlokasi ke tempat yang lebih aman, yakni rusunawa. Penjelesan yang jujur dan masuk akal merupakan hal yang selalu disampaikan oleh Basuki. Basuki tidak akan memberikan kata-kata manis yang hanya membuat masyarakat menjadi lebih menderita.

Jakarta masih akan mengalami banjir. Kejadian banjir berulang akan selalu terjadi apabila proses penataan sungai dan pembangunan sarana penanggulan banjir tidak tuntas. Sungai-sungai harus diperlebar, diperluas dan di perdalam serta dipelihara. Ini pun tidak cukup, sehingga harus dipasang sheet pile untuk menambah tinggi bantaran sungai. Proses ini memerlukan relokasi penduduk. Kerjasama dengan pemerintah pemilik daerah hulu sungai-sungai yang mengaliri Jakarta juga harus dijalin. Water Catchment Area di wilayah Bopunjur harus menjadi prioritas utama untuk dijaga dan dipertahankan.

Tetapi, setidaknya, keanehan-keanhean yang terjadi pada banjir kali ini dibandingkan banjir-banjir pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan upaya-upaya yang telah dikerjakan oleh pemerintah DKI dengan kepemimpinan Basuki dan Djarot. Upaya yang sungguh-sungguh. Upaya yang mencerminkan makna dari pelaksanaan konstitusi. Mengembalikan sebesar-besarnya kekayaan Jakarta untuk kemakmuran rakyatnya.

Dengan jujur, pemerintah DKI yang diwakili Basuki juga mengakui kekurangan-kekurangan yang masih harus di atasi. Cukup aneh sebenarnya pemimpin di negara ini mengakui kekurangannya.

Tetapi itulah Basuki dan Djarot, mereka bukan pemimpin yang bermulut manis dan menjatuhkan rakyatnya untuk lebih menderita. Seperti obat yang pahit, mereka memberikannya kepada masyarakat terdampak, untuk merasakan kepahitan sejenak tetapi sembuh kemudian. Merasakan kerepotan sedikit, tetapi hidup lebih baik nantinya.

Begitulah banjir Jakarta kali ini. Begitu jugalah Basuki dan Djarot. Aneh, kan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *